Tumblelog by Soup.io
Newer posts are loading.
You are at the newest post.
Click here to check if anything new just came in.

January 09 2012

al-Ushul wa al-Furu' - Ibnu Hazm al-Andalusi

الأصول والفروع
أبو محمد علي بن أحمد بن حزم الأندلسي القرطبي الظاهري


كتاب تناول موضوع الاصول والفروع في العقيدة الاسلامية فشرحها شرحاً وافياً وأوضحها مفصلاً لكل مسألة منها تفصيلاً شافياً وقد تناول الكتاب: صفحة الايمان، معنى الايمان والاسلام، ابطال قول من قال: أن الايمان هو المعرفة بالقلب وقد جاء الكتاب مجلداً واحداً مقسماً الى جزئين



Read NowRead Now



DOWNLOAD : (PDF / PDF) --> ط. دار النهضة العربية - ت. محمد عاطف العراقي
تحميل الكتاب من هنا

Jawami' al-Sirah | Wa Khamsu Rasa'il al-Ukhra - Ibnu Hazm al-Andalusi

جوامع السيرة النبوية - وخمس رسائل أخرى
أبو محمد علي بن أحمد بن حزم الأندلسي القرطبي الظاهري


كتاب يبحث في السيرة النبوية المطهرة تعرض فيه مصنفه ابن حزم الأندلسي لمجمل أبواب السيرة من نسب رسول الله صلى الله عليه وسلم وولادته ورضاعته وأخلاقه وبعثته وهجرته وغزواته ووفاته وغيرها من أبواب السيرة النبوية المطهرة
خمس رسائل الاخري: القراءات المشهورة في الأمصار الآتية مجيء التواتر، أسماء الصحابة الرواة وما لكل واحد من العدد، أصحاب الفتيا من الصحابة ومن بعدهم على مراتبهم في كثرة الفتيا، جمل فتوح الإسلام بعد الرسول صلى الله عليه وسلم، أسماء الخلفاء والولاة وذكر مددهم



Read NowRead Now



DOWNLOAD : (PDF / PDF) # --> ط. دار المعارف
(DOC)
تحميل الكتاب من هنا

Bughyat al-Thalibin li Bayani al-Mashayikh al-Muhaqqiqin al-Mu'tamidin - Syaikh Ahmad al-Nakhli al-Makki

بغية الطالبين لبيان المشايخ المحققين المعتمدين
أحمد النخلي المكي






Read NowRead Now



DOWNLOAD :
[PDF-pdf] # / [PDF] / [PDF] --> ط. حيدر آباد الدكن 1910م
تحميل الكتاب من هنا

Raudhat al-Nadhirin wa Khulashah Manaqib al-Shalihin - Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Watari

روضة الناظرين وخلاصة مناقب الصالحين
أحمد بن محمد الوتري






Read NowRead Now



DOWNLOAD : [PDF-pdf] # / [PDF] --> ط. المطبعة الخيرية بجمالية 1888م
تحميل الكتاب من هنا

Syarah al-Thariqat al-Muhammadiyah (al-Barkawi) - Abu Sa'id al-Khadimi | Rajab bin Ahmad

بريقة محمودية في شرح طريقة محمدية وشريعة نبوية - أبو سعيد الخادمي
وبهامشه: الوسيلة الأحمدية والذريعة السرمدية - رجب بن أحمد

في شرح الطريقة المحمدية والسيرة الأحمدية لمحمد البركوي


نبذة المؤلف: ولعمري لو أنصفنا من أنفسنا من الصبح إلى المساء لا نسعى الا للعاجلة كانا لا نطمع الدخول بزمرته في الآجلة فان طننا ذلك ونحن نصر على فعلنا فما أبعد طننا وما أبرد طعمنا أفمن كان مؤمنا كمن كان فاسقا لا سيتوون أفنجعل المسلمين كالمجرمين مالكم كيف تحكمون ثم لما كانت الطريقة المحمدية كافلا لمعظم هذه كلها دقها وجلها ولم يهمل دقيقة من المهلكات وقطرة من المنجيات الا وقد اتى بأسلوب عجيب وترتيب غريب ونهج بديع احتهدت في شرحه وتبيانه خدمة موعودة له صلى الله عليه وسلم وقربه ووصلة لله الاعز الأجل الاكرم فجاء بحمده تعالى بلطائف مزية وفوائد شهية وفرائد وافية من كتب معبرة وزير معتمدة ومن أسفار الانبياء وأنفاس الأولياء وكنوز العلماء وخزائن الحكماء



Read NowRead Now







 


DOWNLOAD : [PDF-pdf] # --> ط. مطبعة شركت صحافية 1900م
تحميل الكتاب من هنا

December 16 2011

Informasi Penerbit dan Penjual Kitab-Kitab Klasik

Bismillah..

Menanggapi pertanyaan para sahabat bagaimana cara memperoleh sumber pustaka klasik Islam dalam versi cetak, sengaja kami menyusun blog "Informasi Toko Kitab", yang berisi database Penerbit, Distributor dan Penjual kitab-kitab klasik Islam di tanah air, untuk memberikan informasi kepada masyarakat luas, khususnya peminat kitab-kitab klasik, dimana tempat-tempat yang mudah dan terjangkau mendapatkan dan memperoleh kitab-kitab tersebut.

Sesuai dengan maksud tersebut, kami mengundang para pemilik usaha penyedia kitab klasik Islam (penerbit, penyalur dan penjual kitab, baik yang online maupun tidak) ikut berpartisipasi dengan menyampaikan profil usaha yang dimilikinya untuk diposting di blog ini.

Untuk info selengkapnya silahkan kunjungi info.kitabklasik.net



June 03 2009

Imam Ali's Mathematical Brilliance

Imam Ali bin Abi Thalib (karramallahu wajhah) was endowed with a quick, sharp, incisive, mathematical mind. Here are a few interesting stories in which Imam Ali's mathematical brilliance revealed itself.

Whole Number and not a Fraction

One Day a Jewish person came to Imam Ali (krw), thinking that since Imam Ali thinks he is too smart, I'll ask him such a tough question that he won't be able to answer it and I'll have the chance to embarrass him in front of all the Arabs.

He asked "Imam Ali, tell me a number, that if we divide it by any number from 1-10 the answer will always come in the form of a whole number and not as a fraction."

Imam Ali (krw.) looked back at him and said, "Take the number of days in a year and multiply it with the number of days in a week and you will have your answer."

The Jewish person got astonished but as he was a polytheist (Mushrik), he still didn't believe Imam Ali (krw.). He calculated the answer Imam Ali (krw.) gave him.

To his amazement he came across the following results:
- The number of Days in a Year = 360 (in Arab)
- The Number of Days in a Week = 7
- The product of the two numbers = 360x7=2520

Now...

2520 ÷ 1 = 2520
2520 ÷ 2 = 1260
2520 ÷ 3 = 840
2520 ÷ 4 = 630
2520 ÷ 5 = 504
2520 ÷ 6 = 420
2520 ÷ 7 = 360
2520 ÷ 8 = 315
2520 ÷ 9 = 280
2520 ÷ 10= 252

The Five Loaves of Bread

Zarr Bin Hobeish relates this story: Two travelers sat together on the way to their destination to have a meal. One had five loaves of bread. The other had three. A third traveler was passing by and at the request of the two joined in the meal. The travelers cut each of the loaf of bread in three equal parts. Each of the travelers ate eight broken pieces of the loaf.

At the time of leaving the third traveler took out eight dirhams and gave to the first two men who had offered him the meal, and went away. On receiving the money the two travelers started quarrelling as to who should have how much of the money. The five-loaf-man demanded five dirhams. The three-loaf-man insisted on dividing the money in two equal parts (4 dirhams each).

The dispute was brought to Imam Ali (krw.) (the Caliph of the time in Arabia) to be decided.

Imam Ali (krw.) requested the three-loaf-man to accept three dirhams, because five-loaf-man has been more than fair to you. The three-loaf-man refused and said that he would take only four dirhams.
At this Imam Ali (krw.) replied, "You can have only one dirham. You had eight loaves between yourselves. Each loaf was broken in three parts. Therefore, you had 24 equal parts. 8x3=24

Your 3 loaves made 9 parts out of which you have eaten 8 portions, leaving just 1 piece to the third traveler. (3x3)-8=1
Your friend had 5 loaves which divided into 3 made 15 pieces. He ate 8 pieces and gave 7 pieces to the guest.(5x3)-8=7

As such the guest shared 1 part from your loaves and 7 from those of your friend. So you should get one dirham and your friend should receive seven dirhams."

Dividing Inheritance (Warits)

What is a wife's share?
Imam Ali (krw) was once interrupted while he was delivering a sermon from the pulpit by someone who asked him how to distribute the inheritance of someone who had died leaving a wife, his parents and two daughters. The Imam instantly answered:

"The wife's share becomes one ninth."

How?

This answer is in fact the result of a long analysis with a number of steps. Ordinarily, we have to decide on the original share of each of these heirs, in the following way:

The wife takes one eighth, in view of the presence of an inheriting child. [Holy Quran 4:12]
The deceased's father and mother take one sixth each. [Holy Quran 4:11]
The two daughters take two thirds of the inheritance. [Holy Quran 4:11]

So the total will be: 1/8 + 1/6 + 1/6 + 2/3 = 3/24 + 4/24 + 4/24 + 16/24 = 27/24

This means the share becomes less than 1/8 in view of the increase of the total of the shares which are so fixed and prescribed. So the one eighth, the original share due to the wife out of twenty-four total shares, has become three shares out of a total of twenty-seven, which is one ninth.

Imam Ali's mind went through this complex mathematical process in a second!


aulia-e-hind.com
Tags: ILMU Ali krw.

May 30 2009

Digitalisasi Kitab Klasik Karya Ulama Nusantara

Digitalisasi Manuskrip-Manuskrip Peninggalan Aceh

Proyek digitalisasi ini terselenggara berkat sinergi antara Museum Negeri Propinsi D.I. Aceh Darussalam, Museum Ali Hasjmy (YPAH) dan Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) Aceh, yang bekerja sama dengan Institut Studi Islam - Universitas Leipzig Jerman.

Sampai dengan saat ini, terdapat 205 judul kitab (dalam kondisi lengkap) yang telah selesai proses digitalization-nya, sedangkan sebanyak 325 judul sisanya masih dalam proses pengerjaan (atau memang tidak bisa dirampungkan karena kondisi fisik kitab).

Pengantar dari website:

"Aceh Darussalam mempunyai banyak peninggalan naskah-naskah kuno yang sangat berharga, yang dikarenakan oleh tsunami pada tahun 2004 mengalami banyak kerusakan dan bahkan sebagian besar hilang. Sebagai contoh: kumpulan koleksi Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) hilang terbawa oleh air sama sekali. Naskah-naskah yang dapat diselamatkan adalah merupakan bagian terakhir pustaka tertulis peninggalan sejarah dan budaya Aceh yang untuk dunia pernaskahan dan juga dari sudut emosional mempunyai harga yang tak bisa dinilai dengan apapun.
.........
Kondisi dan keadaan penyimpanan naskah-naskah boleh dikatakan masih sangat sederhana, provisoris dan sering tidak memenuhi standar penyimpanan yang sebenarnya harus menjamin terlindungnya naskah-naskah tersebut dari kerusakan. Kerusakan-kerusakan itu dapat disebabkan oleh iklim tropis, jamur dan rayap. Karena itulah naskah-naskah sedang berada dalam bahaya akut. Jalan keluar yang paling optimal adalah menyelamatkan naskah-naskah tersebut dengan melakukan digitalisasi di samping restorasi, untuk sedapat mungkin mengabadikannya dan menunjukkannya generasi-generasi mendatang."


Berikut disajikan daftar kitab-kitab yang telah selesai dan tersedia gambarnya di website. Perlu diingat bahwa materi-materi ini masih berupa kumpulan gambar hasil scan, jadi masih perlu dirangkai kembali menjadi bentuk buku/ebook agar lebih mudah dibaca.
(Zoom for larger view - Click on ID number to open details in new window)





Untuk informasi lebih lanjut kunjungi homepage Manuskrip Aceh , dan juga situs Islamic Manuscripts at the Leipzig University Library.


Referensi Lain:

  • Digitized Arabic Manuscripts at the AUB Libraries
  • Islamic Manuscripts from Mali - LOC
  • Digitale Bibliothek - Münchener Digitalisierungszentrum
  • Princeton Digital Library of Islamic Manuscripts
  • Digitized Arabic Materials - The Royal Library - Copenhagen
  • Digital Collection of UCLA Library
  • The Islamic Manuscript Association
  • Islamic Manuscripts Inventories of Amsterdam, Leiden & Ustrecht (offline)



  • ---------------------



    اللَّهُمَّ أغننا بالعلم ، وزينا بالحلم ، وأكرمنا بالتقوى ، وجملنا بالعافية.. برحمتك يا ارحم الراحمين

    Sabīl al-Muhtadīn li al-Tafaqquh fī Amri al-Dīn Muhammad Arsyad ibn Abdullah al-Banjari Melayu
    سبيل المهتدين للتفقه في امر الدين محمد ارشد بن عبد الله البنجاري Arabic

    Hidāyat al-Sālikīn fī Sulūk Masalak al-Muttaqīn Abdussamad al-Jawi al-Palimbani Melayu
    هداية السالكين في سلوك مسلك المتقين عبد الصمد الجاوي الفلمباني

    Ilmu Tukang Abdurrahman al-Bawani - Abd al-Rauf
    علم توكنغ عبد الرحمن البوانى (Jawi)
    Syamsul Ma'rifah ila Hadhratis Syari'ah
    شمس المعرفة الى حضرة الشريعة
    Tuhfatul Ahbab
    تحفة الأحباب

    Mawa'izul Badi' (Jawi)
    مواعظ البديع

    Qawa'idul Islam Arabic


    Bidayatul Mubtadi bi Fadhlillahil Muhdi (Jawi)
    قواعد الإسلام
    بداية المبتدى بفضل الله المهدى

    Akhbarul Karim Syeikh Seumatang Aceh
    اخبر الكريم

    Kasyful Karam fi Bayaninniyyah 'inda Takbiratil Ihram Muhammad Zayn ibn al-Faqih Jalaluddin al-Asyi Melayu
    كشف الكرام في بيان النية عند تكبيرة الإحرام محمد زين بن الفقيه جلال الدين الآشي الشافعي

    Tafrahatuz Zakirin (Jawi)
    تفرحة الذاكرين

    Hikayat Siti Latifah Aceh
    حكاية سيتى لطيفة

    Thariqud Din Muhammad Ali ibn Sari Aceh
    طريق الدين محمد على بن سري (Jawi)

    Raf'ul Qadar fi Tawassul bi Ahli Badr Abdurrahman al-Azhari al-Syahir bi al-Qabbani Arabic
    رفع القدر في التوسل بأهل البدر عبد الرحمن الازهري الشهير بالقباني

    Hikayat Syeikh Ahmad Aceh

    Tariqatus Shalihin Melayu
    طريقة الصالحين

    Hijratul Insan Arabic
    هجرة الإنسان (Jawi)

    Jumlah min Tashrif al-Af'al Arabic
    جملة من تصريف الافعال

    Khabar Maut Leube Haji Po Suri Peurumoh Haji Panglima Aceh
    خبر موت لبى حج فو سورى فرومه حج فغلما
    Khabar Neraka
    خبر نركا

    Mushaf Al-Qur'an Arabic
    Mushaf Al-Qur'an

    Risālat al-Waḍ' Arabic
    رسالة الوضع
    Samarqand'alā Sharḥ al-Maḍḍ fī 'Ilm al-Waḍ'
    سمرقند على شرح المضد فى علم الوضع

    Beukeumunan (Jawi)
    بكمنن

    Sair al-Salikin ila Ibadah Rabb al-Alamin Abdussamad al-Palembani (Jawi)
    سير السالكين الي عبادة رب العالمين عبد الصمد الفلمباني

    Talkhish al-Falah fi Bayan Ahkam al-Talak wa Nikah Muhammad Zain ibn al-Faqih Jalaluddin al-Asyi' (Jawi)
    تلخيص الفلاح فى بيان أحكام الطلاق و النكاح محمد زين بن الفقيه جلال الدين الآشيئ

    Nujūm al-Hudā li Ahl al-Qurbā Melayu
    نجوم الهدى لأهل القربى

    Hikayat Fathul Khafi Aceh
    حكاية فتح الخافي

May 06 2009

Sulthanul Auliya Abu Yazid al-Bisthami

Sulthan al-Auliya wa al-Arifin Qutub al-Aqtab Ghauts al-Shamadani
Hadhrat al-Syaikh Abu Yazid al-Bisthami

“Apa yang aku inginkan ialah pada Hari Qiyamat nanti, aku dapat berada dalam khemahku di tepi tebing Neraka, supaya apabila aku melihatnya api Neraka akan menjadi sejuk dan aku menjadi sebab untuk kerehatan makhluk Tuhan..”



Dari : Tadzkirah al-Ashfiya fi Hayat al-Auliya
Karya: Maulawi Jalaluddin Ahmad Ar-Rowi

Khwajah Abu Yazid Al-Bistami Rahmatullah ‘alaih adalah seorang Syeikh yang teragung dalam bidang Tasawwuf dan Keruhanian, khususnya dalam perjalanan Tariqat menuju Hadhrat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Beliau telah menerima Nisbat ‘Ilmu Batin dari Hadhrat Imam Ja’afar As-Sadiq Radhiyallahu ‘Anhu yang merupakan salah seorang Imam yang teragung dari kalangan Ahli Bait Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.
ADHRAT

Nama beliau ialah Taifur Bin ‘Isa Bin Adam Bin Sarushan. Abu Yazid adalah nama Kuniyatnya. Beliau amat dikenali menerusi nama Kuniyatnya dan sering dipanggil dengan nama Bayazid. Datuk beliau pada asalnya adalah seorang Majusi yang menyembah api, kemudian telah bernasib baik diberikan Hidayah dan Nikmat oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk memeluk Agama Islam. Bapa beliau adalah seorang yang amat dikenali dan dihormati di Bistam. Beliau hidup sezaman dengan Hadhrat Ahmad Khadhrawiyah Rahmatullah ‘alaih, Hadhrat Abu Hafs Rahmatullah ‘alaih dan Hadhrat Yahya Bin Mu’az Rahmatullah ‘alaih dan beliau juga pernah bertemu dengan Hadhrat Syafiq Balkhi Rahmatullah ‘alaih. Beliau merupakan Ketua bagi Para Wali dan seorang Sultan bagi Para ‘Arifin. Beliau juga merupakan salah seorang periwayat dan pemegang Sanad Hadits yang tinggi serta merupakan pengarang bagi banyak kitab-kitab yang berkaitan dengan ‘Ilmu Hadits Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Hadhrat Sultanul ‘Arifin Abu Yazid Taifur Bin ‘Isa Al-Bistami Rahmatullah ‘alaih merupakan salah seorang dari sepuluh Imam yang begitu disanjung tinggi oleh para pencinta ‘Ilmu Tasawwuf. Tiada seorang pun sebelum beliau yang begitu memberikan penekanan yang tinggi dalam bidang ‘Ilmu Tasawwuf ini. Pada diri beliau terdapat begitu banyak Keramat dan Maqamat yang terhasil menerusi amalan dan latihan Riyadhah dan Mujahadah. Dalam setiap masa dan keadaan beliau begitu mencitai ‘Ilmu Tauhid dan begitu memberikan penumpuan terhadap bidang ‘Ilmu tersebut. Beliau begitu mendahului dalam hal-hal Keruhanian dan Muraqabah sehinggakan Hadhrat Sayyid At-Taifah Junaid Al-Baghdadi Rahmatullah ‘alaih telah berkata, “Hadhrat Abu Yazid di kalangan kami menduduki suatu maqam yang tinggi sepertimana kedudukan Hadhrat Jibril ‘Alaihissalam di kalangan Para Malaikat.”

© Hadhrat Maulawi Jalaluddin Ahmad Ar-Rowi 'Ufiyallahu 'Anhu Wali Walidaihi 2

Tazkirah Al-Asfiya Fi Hayat Al-Awliya Hadhrat Sayyid At-Taifah Junaid Al-Baghdadi Rahmatullah ‘alaih juga telah berkata, “Dalam medan Tauhid ini, penghujung bagi mereka yang menjalaninya adalah permulaan bagi orang Khurasan ini,” sambil merujuk kepada Hadhrat Sultanul ‘Arifin Abu Yazid Taifur Bin ‘Isa Al-Bistami Rahmatullah ‘alaih. Semenjak awal perjalanannya dalam bidang Tasawwuf, beliau begitu rajin beribadah dan melakukan latihan-latihan Mujahadah dan Riyadhah Keruhanian. Diriwayatkan bahawa beliau telah berkata, “Selama tiga puluh tahun aku begitu giat menjalankan kegiatan Mujahadah dan aku telah dapati bahawa tiada yang lebih sukar dari mempelajari tentang Kesucian Agama dan menuruti segala pengajarannya, namun jika tidak disebabkan terdapatnya perbezaan pendapat dalam Agama yang suci ini aku telah hampir gagal dalam usahaku. Perbezaan pendapat dalam Kesucian Agama ini adalah Rahmat kecuali jika tidak terkeluar dari pengertian Tauhid.”

PENCARIAN KEBENARANNYA DAN KEBENARAN PENCARIANNYA

A

Subhanahu Wa Ta’ala telah meletakkan rasa cinta terhadap DiriNya dan pencarian Ma’rifat ZatNya di dalam hati Hadhrat Abu Yazid Al-Bistami Rahmatullah ‘alaih semenjak beliau kecil lagi. Pada suatu hari ketika beliau berada di samping gurunya sedang mempelajari Al-Quran, ketika sampai pada Surah Luqman yang AyatNya berbunyi, “Inishkur Li Wali Walidaika,” bermaksud, “Bersyukurlah kerana Aku dan kerana kedua ibubapamu.”
LLAH

Ayat ini telah memberikan kesan pada hatinya, lalu beliau meminta izin dari gurunya untuk pulang ke rumah dan bertemu ibunya seraya berkata, “Saya telah sampai pada satu pengertian Ayat yang mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Bersyukurlah kerana Aku dan kerana kedua ibubapamu.” Saya tidak dapat menunaikan hak berkhidmat untuk dua rumah. Oleh kerana Firman Ilahi ini saya begitu sedih, sama ada Ibu memohon dari Allah supaya saya tetap terus bersama Ibu ataupun menyerahkan diri saya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala sahaja.” Ibunya berkata, “Pergilah. Aku telah lepaskan engkau untuk Jalan Tuhan dan aku memaafkan kamu bagi segala hak-hakku.” Setelah mendapat keizinan dari ibunya, Hadhrat Abu Yazid Al-Bistami Rahmatullah ‘alaih telah keluar dari negeri Bistam dan pergi menyibukkan dirinya dengan beribadat di sebuah hutan dalam negeri Syam selama tiga puluh tahun. Di sana juga beliau giat menjalankan latihan Mujahadah dan Riyadhah Keruhanian. Beliau selalu berada dalam keadaan lapar dan ketika beliau bersolat, disebabkan © Hadhrat Maulawi Jalaluddin Ahmad Ar-Rowi 'Ufiyallahu 'Anhu Wali Walidaihi 3

Tazkirah Al-Asfiya Fi Hayat Al-Awliya dirinya yang begitu Khauf terhadap Tuhan serta mengagungkan Syari’at, dada beliau telah mengeluarkan bunyi yang seolah menggelegak. Hadhrat Sultanul ‘Arifin Abu Yazid Taifur Bin ‘Isa Al-Bistami Rahmatullah ‘alaih pernah berkata, “Pada suatu ketika, orang ramai memberitahu bahawa pada tempat yang sekian terdapat seorang Darwish yang Kamil. Daku telah pergi untuk melihatnya. Apabila aku sampai padanya aku melihat bahawa beliau meludah pada arah Qiblat. Pada waktu itu juga aku terus kembali dan aku berkata dalam hatiku, jikalau dalam Tariqat Darwish ini terdapat sebarang martabat tentulah dia tidak akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Syari’at. Jauh rumahku dari Masjid adalah dalam jarak empat puluh langkah. Demi penghormatanku terhadap Masjid, aku tidak pernah sekalipun meludah dalam perjalananku.” Beliau telah pergi bersafar ke Mekkah untuk menunaikan ‘Ibadat Haji. Dalam perjalanannya, setelah beliau melangkah beberapa langkah lalu beliau pun bersolat Nafil dua raka’at. Beliau melakukan perkara ini dalam perjalanannya ke Mekkah yang mengambil masa selama dua belas tahun. Setelah tiba di Mekkah beliau berkata, “Rumah Tuhan bukanlah pintu gerbang Para Raja.” Pada suatu ketika beliau telah pergi menghadiri musim Haji di Mekkah. Setelah selesai mengerjakan Haji beliau terus saja pulang menuju ke rumahnya tanpa melakukan Ziarah di Madinah Munawwarah. Kemudian, pada tahun yang berikutnya beliau telah pergi melakukan Ziarah Raudhah Hadhrat Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam di Madinah Munawwarah. Beliau berkata, “Menjadikan safar Madinah Munawwarah menuruti safar Mekkah Mukarramah adalah bertentangan dengan adab.” Hadhrat Sultanul ‘Arifin Abu Yazid Taifur Bin ‘Isa Al-Bistami Rahmatullah ‘alaih pernah berkata, “Aku telah pergi ke Mekkah dan aku melihat sebuah Rumah yang berdiri berasingan. Aku berkata pada diriku, “Hajiku ini tidak diterima kerana aku telah melihat banyak batu yang seumpama ini.” Aku telah pergi sekali lagi dan aku melihat sebuah Rumah yang juga Rumah Tuhan. Aku berkata, “Ini bukanlah hakikat Tauhid yang sebenarnya.” Aku telah pergi kali ketiga dan aku melihat hanya Tuhan Rumah tersebut. Suatu suara datang membisik di hatiku, “Wahai Bayazid, jika engkau tidak melihat DiriNya, engkau tidak akan menjadi seorang Mushrik meskipun engkau dapat melihat seluruh Alam Maya, dan semenjak engkau melihat DiriNya, engkau adalah Mushrik meskipun buta penglihatanmu terhadap seluruh Alam Maya.” Kerana disebabkan perkara itu aku pun bertaubat dengan sebanyakbanyaknya.” Tatkala Hadhrat Abu Yazid pergi ke Madinah, ramai orang yang sama hendak pergi bersama beliau. Beliau berdoa kepada Allah supaya beliau
Tags: Sufi Biography

March 11 2009

Ngaji Tafsir Online - 71 Judul Kitab (Arabic and English)


Koleksi kitab-kitab tafsir al-Quran al-Karim.

Sampai dengan saat ini terdapat 71 judul kitab tafsir, yang dikarang oleh para mufassir dari abad pertama sampai dengan abad ke-15 hijriah. Dari Ibn Abbas, al-Syafi'i, al-Baghowi, al-Khazin, Jalalain, Sayyid Quthb, dan masih banyak lagi.

Tersedia dalam bahasa Arabic (68) dan English (3).

Formatnya telah dirapikan sedemikian rupa, jadi kita bisa membandingkan pandangan beberapa kitab tafsir atas suatu ayat dalam al-Quran.

Insya Allah bermanfaat.


No download required. Just read it online.
(Daftar kitab yang telah tersedia, sorted by title)

No. Title Author 1. Adhwa' al-Bayan fi Tafsir al-Quran Al Syanqithi 2. Aisar al-Tafasir Al Jazairi 3. Aisar al-Tafasir As'ad Humad 4. al-Bahr al-Madid fi Tafsir al-Quran al-Majid Ibn Ajibah 5. al-Bahr al-Muhith Abu Hayyan 6. al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur Al Suyuthi 7. al-Durr al-Mashun Al Dur Al Masoun 8. al-Jami' li Ahkam al-Quran Al Qurthubi 9. al-Kasyf wa al-Bayan Al Tsa'labi 10. al-Kasyaf al-Zamakhsari 11. al-Lubab fi 'Ulum al-Kitab Ibn Adil 12. al-Mizan fi Tafsir al-Quran Al Thabathabai 13. al-Muntakhab fi Tafsir al-Quran al-Karim Lajnah Quran wa sunnah 14. al-Nahr al-Maad Al Andalusi 15. al-Nukt wa al-Uyun Al Mawardi 16. al-Shafi fi Tafsir Kalam Allah al-Wafi Al-Faidh Al-Kasyani 17. al-Tafsir Ibn Arafa 18. al-Tafsir al-Kabir Al Thabrani 19. al-Tahrir wa al-Tanwir Ibn Asyur 20. al-Tas_hil li 'Ulum al-Tanzil Al Gharnati 21. al-Tibyan al-Jami' li 'Ulum al-Quran Al Thusi 22. al-Wajiz Al Wahidi 23. al-Wasith fi Tafsir al-Quran al-Karim Tanthawi 24. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil Al Baidhawi 25. Arais al-Bayan fi Haqaiq al-Quran Al Buquli 26. Asbab an-Nuzul (en) Al Wahidi 27. Bahr al-Ulum Al Samarqandi 28. Fath al-Qadir Al Syaukani 29. Fi Dhilal al-Quran Sayyid Quthb 30. Gharaib al-Quran wa Raghaib al-Furqan Al-Qumi Al-Naisaburi 31. Gharib al-Quran Zaid bin Ali 32. Haqaiq al-Tafsir al Salmi 33. Himyan al-Zad ila Dar al-Ma'ad Athfisy 34. Irsyad al-'Aql al-Salim ila Mazaya al-Kitab al-Karim Abu Al-Su'ud 35. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Quran al-Thabari 36. Jawahir al-Hisan fi Tafsir al-Quran Al Thaalibi 37. Jawahir al-Tafsir Al Khalili 38. Khawathir Al Sya'rawi 39. Lathaif al-Isyarat Al Qusyairi 40. Lubab al-Ta'wil fi Ma'ani al-Tanzil Al Khazin 41. Ma'alim al-Tanzil Al Baghawi 42. Madarik al-Tanzil wa Haqaiqu al-Ta'wil Al Nasafi 43. Mafatih al-Ghaib Al Razi 44. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Quran Al Tabrasi 45. Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-'Aziz Ibn Atiyah 46. Mukhtash_shar Tafsir Ibnu Katsir Al Shabuni 47. Nadham al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar Al Biqa'i 48. Ruh al-Bayan fi Tafsir al-Quran Isma'il Haqqi 49. Ruh al-Ma'ani Al Alusi 50. Shafwat al-Tafasir Al Shabuni 51. Tafsir Al Aaqam 52. Tafsir Furat Al-Kufi 53. Tafsir Muqatil ibn Sulaiman 54. Tafsir al-Hubari Al Hubari 55. Tafsir al-Mujahid Mujahid Al-Makhzumi 56. Tafsir al-Quran Al Fairuzzabadi 57. Tafsir al-Quran Al Tustari 58. Tafsir al-Quran Ali bin Ibrahim Al Qummi 59. Tafsir al-Quran Ibn Abd al-Salam 60. Tafsir al-Quran Ibn Arabi 61. Tafsir al-Quran al-Karim Ibn Katsir 62. Tafsir Ayat al-Ahkam Al Shabuni 63. Tafsir Bayan al-Sa'adah fi Maqamat al-'Ibadah Al Janabidzi 64. Tafsir Jalalain Al Suyuthi, Al Mahalli 65. Tafsir Jalalain (En) Al Jalalain 66. Tafsir Kitab Allah al-'Aziz Al Hawari 67. Tafsir Shadr al-Muta'allahin Al Syairazi 68. Taisir al-Tafsir Al Qath_than 69. Taisir al-Tafsir Athfisy 70. Tanwir al-Miqbas (en) Ibn Abbas 71. Zad al-Masir Ibn Jauzi
kunjungi situsnya: www.alTafsir.com


نفعنا الله به والمؤمنين. آمين


جامع البيان في تفسير القرآن/ الطبري
الكشاف/ الزمخشري
مجمع البيان في تفسير القرآن/ الطبرسي
مفاتيح الغيب ، التفسير الكبير/ الرازي
الجامع لاحكام القرآن/ القرطبي
تفسير القرآن الكريم/ ابن كثير
انوار التنزيل واسرار التأويل/ البيضاوي
تفسير الجلالين/ المحلي و السيوطي
Tafsir al-Jalalayn (en)
فتح القدير/ الشوكاني
تفسير القرآن/ الفيروز آبادي
Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs (en)
بحر العلوم/ السمرقندي
النكت والعيون/ الماوردي
معالم التنزيل/ البغوي
المحرر الوجيز في تفسير الكتاب العزيز/ ابن عطية
زاد المسير في علم التفسير/ ابن الجوزي
تفسير القرآن/ ابن عبد السلام
مدارك التنزيل وحقائق التأويل/ النسفي
لباب التأويل في معاني التنزيل/ الخازن
البحر المحيط/ ابو حيان
التفسير/ ابن عرفة
غرائب القرآن و رغائب الفرقان/القمي النيسابوري
الجواهر الحسان في تفسير القرآن/ الثعالبي
اللباب في علوم الكتاب/ ابن عادل
نظم الدرر في تناسب الآيات والسور/ البقاعي
الدر المنثور في التفسير بالمأثور/ السيوطي
إرشاد العقل السليم إلى مزايا الكتاب الكريم/ ابو السعود
مقاتل بن سليمان/ مقاتل بن سليمان
الكشف والبيان / الثعلبي
تفسير القرآن/ التستري
حقائق التفسير/ السلمي
لطائف الإشارات / القشيري
عرائس البيان في حقائق القرآن/ البقلي
تفسير القرآن / ابن عربي
روح البيان في تفسير القرآن/ اسماعيل حقي
البحر المديد في تفسير القرآن المجيد/ ابن عجيبة
تفسير القرآن/ علي بن ابراهيم القمي
التبيان الجامع لعلوم القرآن/ الطوسي
الميزان في تفسير القرآن/ الطبطبائي
الصافي في تفسير كلام الله الوافي/ الفيض الكاشاني
تفسير بيان السعادة في مقامات العبادة/ الجنابذي
تفسير الحبري/ الحبري
تفسير فرات الكوفي/ فرات الكوفي
تفسير الأعقم/ الأعقم
تفسير كتاب الله العزيز/ الهواري
هميان الزاد إلى دار المعاد / اطفيش
تيسير التفسير/ اطفيش
جواهر التفسير/ الخليلي
روح المعاني/ الالوسي
في ظلال القرآن/ سيد قطب
التحرير والتنوير/ ابن عاشور
أضواء البيان في تفسير القرآن/ الشنقيطي
تفسير صدر المتألهين/ صدر المتألهين الشيرازي
خواطر محمد متولي الشعراوي
تيسير التفسير/ القطان
الوسيط في تفسير القرآن الكريم/ طنطاوي
الوجيز/ الواحدي
المنتخب في تفسير القرآن الكريم / لجنة القرآن و السنة
أيسر التفاسير/ أبو بكر الجزائري
أيسر التفاسير/ أسعد حومد
تفسير مجاهد / مجاهد بن جبر المخزومي
الدر المصون/السمين الحلبي
التسهيل لعلوم التنزيل / ابن جزي الغرناطي
تفسير آيات الأحكام/ الصابوني
مختصر تفسير ابن كثير/ الصابوني
صفوة التفاسير/ الصابوني
Asbab Al-Nuzul by Al-Wahidi (en)
غريب القرآن / زيد بن علي
النهر الماد / للأندلسي
التفسير الكبير / للإمام الطبراني

February 23 2009

Poetry: Jalaluddin Rumi (2)

I’m neither beautiful nor ugly
neither this nor that

I’m neither the peddler in the market
nor the nightingale
in the rose garden


Teacher give me a name so that I’ll know
what to call myself

I’m neither slave nor free neither candle
nor iron

I’ve not fallen in love with anyone
nor is anyone in love with me

Whether I’m sinful or good
sin and goodness come from another
not from me

Wherever He drags me I go
with no say in the matter

(Jalaluddin Rumi)


Tags: Rumi Poetry

February 18 2009

Poetry: Abu Manshur al-Hallaj

Picture :
Grave of Abu Manshur Al-Hallaj in Baghdad



Kill me, my faithful friends,
For in my being killed is my life.



Love is that you remain standing
In front of your Beloved
When you are stripped of all your attributes;
Then His attributes become your qualities.

Between me and You, there is only me.
Take away the me, so only You remain.

(Abu Manshur Al Hallaj)
Tags: Hallaj Poetry

February 17 2009

Poetry: Jalaluddin Rumi


Love is here; it is the blood in my veins, my skin.
I am destroyed; He has filled me with Passion.
His fire has flooded the nerves of my body.
Who am I? Just my name; the rest is Him.

(Jalaluddin Rumi)
Tags: Rumi Poetry

Poetry: Rabiah Adawiyah


O God, Another Night is passing away,
Another Day is rising —
Tell me that I have spent the Night well so I can be at peace,
Or that I have wasted it, so I can mourn for what is lost.
I swear that ever since the first day You brought me back to life,
The day You became my Friend,
I have not slept —
And even if You drive me from your door,
I swear again that we will never be separated.
Because You are alive in my heart.

(Rabiah Adawwiyyah)
Tags: Rabiah Poetry

February 16 2009

Poetry: Ibn Athaillah al-Sakandari

How utterly amazing is someone who flees from something he cannot escape
to seek something that will not last!

“It is not the eyes that are blind,
but the hearts in the breasts are blind.”

Do not travel from phenomenal being to phenomenal being.
You will be like the donkey going around at the mill.
It travels to what is set out from.

Travel from phenomenal beings
to the Maker of Being.

“And the final end is to your Lord.”

(Ibn Athaillah)

Poetry: Fariduddin Attar


Strive to discover the mystery before life is taken from you.
If while living you fail to find yourself, to know yourself,
How will you be able to understand the secret of your existence when you die?

(Fariduddin Attar)
Tags: Attar Poetry

Poetry: Ibnu Araby


When my Beloved appears,
With what eye do I see Him?

With His eye, not with mine,
For none sees Him except Himself.

(Ibn Arabi)

Poetry: Ibn Athaillah (2)

How can you imagine that something else veils Him
when He is the One who is manifest by everything?
How can you imagine that something else veils Him
when He is the One who is made manifest in everything?
How can you imagine that something else veils Him
when He is the One who is manifest to everything?
How can you imagine that something else veils Him
when He was the One who was Manifest before there was anything?

How can you imagine that something else veils Him
when He is more manifest than anything?
How can you imagine that something else veils Him
when He is the One with whom there is nothing else?
How can you imagine that something else veils Him
when He is the One who is nearer to you than anything?
How can you imagine that something else veils Him
when if it had not been for Him, there would not have been anything?

A marvel!
See how existence becomes manifest in non-existence!
How the in-time holds firm alongside Him whose attribute is eternal!

(Ibn Athaillah)

February 13 2009

We Will Not Go Down (Song for Gaza)

Composed By: Michael Heart
(Live in: Syria - Switzerland - Austria - USA)




Lyric:

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight


>> More info: http://michaelheart.com/Song_for_Gaza.html

February 05 2009

Fariduddin Attar - Penyair Sufi dari Persia

Contents from: Republika

Bait demi bait puisi sufistik yang dirangkainya begitu melegenda. Sosok dan karya sastra yang ditorehkannya telah menjadi inspirasi bagi para pujangga di tanah Persia, salah satunya penyair termashur sekelas Jalaluddin Rumi. Penyair sufi legendaris yang masih berpengaruh hingga abad ke-21 itu dikenal dengan nama pena Fariduddin Attar, si penyebar wangi yang dalam bahasa Persia disebut Attar.

Nama lengkapnya adalah Abu Hamid bin Abu Bakr Ibrahim. Jejak hidupnya tak terlalu banyak terungkap. Syahdan, Attar terlahir di Nishapur, sebelah barat laut Persia. Ia dijuluki dengan nama Attar lantaran profesinya sebagai seorang ahli farmasi. Attar adalah seorang anak ahli farmasi di kota Nishapur yang terbilang cukup kaya.


Attar muda menimba ilmu kedokteran, bahasa Arab dan teosofi di sebuah madrasah (perguruan tinggi) yang terletak di sekitar tempat suci Imam Reza di Mashhad. Menurut catatan yang tertera pada buku yang ditulisnya Mosibat Nameh (Buku Penderitaan), pada saat remaja dia bekerja di toko obat atau apotek milik sang ayah. Attar bertugas untuk meracik obat dan mengurus pasien.

Ia lalu mewarisi toko obat itu, setelah sang ayah wafat. Setiap hari Attar harus berhadapan dan melayani pasien yang berasal dari kaum tak berpunya. Suatu hari seorang fakir berpakaian jubah singgah ke apoteknya. Konon, si fakir itu lalu menangis begitu menghirup aroma wewangian yang menebar di apotek milik Attar.

Menduga si fakir akan meminta-minta, Attar pun mencoba mengusirnya. Namun, si fakir berkukuh tak mau pergi dari tempat usaha Attar. Lalu si fakir berkata pada Attar, ''Tak sulit bagiku untuk meninggalkan apotekmu ini dan mengucapkan selamat tinggal kepada dunia yang bobrok ini. Yang melekat di badanku hanyalah jubah yang lusuh ini. Aku justru merasa kasihan kepadamu, bagaimana kamu meninggalkan dunia ini dengan harta yang kamu miliki.''

Sesaat setelah melontarkan kata-kata yang menghujam di hati Attar, si fakir itu lalu meninggal dunia di depan kios obat. Pertemuannya dengan si fakir kemudian mengubah garis kehidupannya. Ia memutuskan menutup kios obatnya dan memilih berkelana mencari guru-guru sufi. Yang dicarinya hanya satu, yakni hakikat kehidupan.

Laiknya si fakir yang singgah di toko obatnya, Attar berkelana dari satu negeri ke negeri lainnya untuk bertemu dengan syekh - pemimpin tarekat sufi. Beberapa negeri yang disinggahinya antara lain, Ray, Kufah, Makkah, Damaskus, Turkistan, hingga India. Di setiap syekh yang ditemuinya, Attar mempelajari tarekat dan menjalani kehidupan di khaniqah (tempat-tempat berkumpul untuk latihan dan praktik spiritual).

Setelah menemukan hakikat hidup yang dicarinya melalui sebuah perjalanan panjang, Attar memutuskan kembali ke kota kelahirannya Nishapur dan membuka kembali toko obat yang sempat ditutupnya. Pengalaman pencarian makna dan hakikat hidup yang dilakoninya itu dituangkan dalam Mantiq al-Tayr (Musyawarah Burung). Sebuah karya yang fenomenal.

Di kota kelahirannya, Attar berupaya untuk menyebarkan ajaran sufi. Ia pun memberi sumbangan yang amat besar pada dunia sufi dengan menuliskan kumpulan kisah para sufi sebelumnya dalam kitab Tadzkiratul Awliya. Karya yang ditulisnya itu sedikit banyak telah mempengaruhi pemikiran Attar. Ia pun getol menulis puisi-puisi sufi. Begitu banyak puisi yang berhasil dituliskan sang penyair sufi legendaris itu. Namun, ada beragam versi mengenai jumlah pasti puisi yang dibuat sang penyair. Reza Gholikan Hedayat, misalnya, menyebutkan jumlah buku puisi yang dihasilkan Attar mencapai 190 dan berisi 100 ribu sajak dua baris (distich). Sedangkan Firdowsi Shahname menyebutkan jumlah puisi yang ditulis Attar mencapai 60 ribu bait.

Ada pula sumber yang menyebutkan jumlah buku puisi yang ditulis Attar mencapai 114 atau sama dengan jumlah surat dalam Alquran. Namun, studi yang lebih realistis memperkirakan puisi yang ditulis Attar mencapai sembilan sampai 12 volume. Secara umum, karya-karya Attar dapat dibagi ke dalam tiga kategori.

Pertama, puisi yang ditulisnya lebih bernuansa tasawuf atau sufistik yang menggambarkan keseimbangan yang sempurna. Kategori pertama ini dikemas dengan seni cerita bertutur. Kedua, puisi-puisi yang ditulisnya bertujuan untuk menyangkal kegiatan panteisme. Ketiga, puisi-puisi yang berisi sanjungan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Salah satu karya yang utama dari Attar berjudul Asrar Nameh (Kitab Rahasia). Karya lainnya yang terkenal dari Attar adalah Elahi Nameh tentang zuhud dan pertapaan. Kitab Asrar Nameh itu konon dihadiahkan kepada Maulana Jalaludin Rumi ketika keluarganya tinggal di Nishapur dalam sebuah perjalanan menuju Konya.

Syahdan, dalam pertemuan dengan Rumi yang saat itu masih kecil, Attar meramalkan bahwa Rumi akan menjadi seorang tokoh besar dan terkenal. Ramalan itu ternyata benar-benar terbukti. Attar meninggal dunia di usianya yang ke-70 tahun. Ia ditawan dan kemudian dieksekusi oleh pasukan Tentara Mongol yang melakukan invasi ke wilayah Nishapur pada 1221 M. Kisah kematian seorang Attar bercampur antara legenda dan spekulasi.

Menurut sebuah cerita, Attar dipenjara oleh tentara Mongol. Lalu seseorang datang dan mencoba menebusnya dengan ribuan batang perak. Namun, Attar menyarankan agar Mongol tak melepaskannya. Tentara Mongol mengira penolakan itu dilakukan agar tebusan yang diberikan lebih besar. Setelah itu datang lagi orang lain yang membawa sekarung jerami untuk menebus Attar. Kali ini Attar meminta agar Mongol melepaskannya. Tentara Mongol pun marah besar dan lalu memotong kepala Attar.

Attar dimakamkan di Shadyakh. Makamnya yang megah dibangun Ali-Shir Nava'i pada abad ke-16. Sosok Attar hingga kini masih tenar dan populer di Iran. Tak heran, bila makamnya banyak dikunjungi para peziarah.

Mantiq Al-Tayr Tujuh Tahapan Menuju Hakikat

Mantiq Al-Tayr (Musyawarah Burung) merupakan karya yang paling fenomenal dari Fariduddin Attar. Kitab itu berisi pengalaman spiritual yang pernah dilaluinya untuk mencari makan dan hakikat hidup. Attar menuangkan pengalamannya itu melalui sebuah cerita perjalanan sekawanan burung agar lebih mudah dimengerti.

Dengan gaya bertutur, kitab itu mengisahkan perjalanan sekawanan burung untuk mencari raja burung yang disebut sebagai Simurgh di puncak Gunung Kaf yang agung. Sebelum menempuh perjalanan berkumpulah segala burung di dunia untuk bermusyawarah. Tujuan mereka hanya satu yakni mencari raja. Dalam perjalanan itu, para burung yang dipimpin oleh Hud-hud harus melalui tujuh lembah.

Ribuan burung sedunia pun berangkat. Namun yang berhasil bertemu denga sang raja hanyalah 30 ekor saja. Tujuh lembah yang dikisahkan dalam cerita itu melambangkan tingkatan-tingkatan keruhanian yang telah dilalui Attar selama berkelana mencari hakikat hidup.

Ketujuh lembah yang harus ditempuh untuk dapat bertemu dengan Sang Khalik itu adalah lembah pencarian, lembah cinta, lembah keinsyafan, lembah kebebasan dan kelepasan, lembah keesaan murni, lembah keheranan, lembah ketiadaan, dan keterampasan.

Lembah pencarian
Inilah lembah pertama yang harus dilalui seorang pencari dalam menjalani kehidupan spiritualnya. Aneka ragam godaan duniawi akan menghampiri dan itu harus bisa ditaklukkan. Para pencari diharuskan berjuang dengan gigih untuk mendapatkan cahaya ilahi yang didambanya dengan menghilangkan hasrat-hasrat duniawinya. Hasrat duniawi ini jangan diartikan dengan meninggalkan dunia sepenuhnya

Lembah Cinta
Setelah melalui lembah pertama, sang pencari harus menemukan cinta sejati dalam dirinya untuk dapat menghalau tangan hitam akal yang menutupi ketajaman mata batin. Hanya dengan mata batinlah para pencari kebenaran ini dapat melihat realita apa adanya. Mata hati tidak dapat dibohongi. Dalam kecintaannya, seorang pencari haruslah memiliki kesudian untuk mengorbankan apa-apa darinya demi yang diharapkannya yang dicintanya. Keikhlasan dalam berkurban menunjukkan seberapa besar cintanya pada kekasihnya.

Lembah Kearifan
Dengan mata hati yang terbuka, seorang pencari dapat melihat jelas realita ciptaanNya. Dengan begitu kearifan akan menyertai kehidupannya. Jalan makrifat dapat dilalui dengan cara tata cara ibadah yang khusuk, dan latihan-latihan penempaan diri dalam. Tentu setelah melalui jalan cinta.

Lembah Kebebasan
Lembah ini merupakan tahapan yang harus dilalui para pencari yang sudah mampu menghilangkan nafsu untuk mendapatkan sesuatu dengan mudah atau dengan ikhtiar biasa. Dalam tingkatan ini kesibukan seorang pencari akan fokus pada hal-hal yang utama dan hakiki. Dia melihat segala seakan biasa, tanpa ada yang menakjubkan.

Lembah Keesaan Murni
Lembah keesaan murni sebuah lambang wujud, di mana dalam jagat raya ini hanya ada satu wujud yaitu wujud Tuhan.

Lembah Ketakjuban
Di lembah ini sang pencari akan mengalami ketakjuban luar biasa karena semua menjadi serba terbalik. Siang jadi malam, malam jadi siang, semuanya serba berubah.

Lembah ketiadaan
Inilah lembah terakhir dari sebuah pencarian. Ketika sampai pada level ini, sang pencari akan menemukan dirinya secara utuh. Yang ditemukannya hanyalah dirinya dan hakikat dirinya. Setelah tahap inipun sang pencari akan menemukan simurgh yang tak lain adalah hakikat dirinya sendiri.



Older posts are this way If this message doesn't go away, click anywhere on the page to continue loading posts.
Could not load more posts
Maybe Soup is currently being updated? I'll try again automatically in a few seconds...
Just a second, loading more posts...
You've reached the end.

Don't be the product, buy the product!

Schweinderl